resilaturahmi_sa on Instagram

Resilaturahmi

enjoy my life... Travelling n cooking

Report inappropriate content

2

2

2

4

0

7

#Repost from @fiqihwanita_ with @regram.app ... Semoga bermanfaat. . . Follow @fikihmuslimah_ Follow @fikihmuslimah_ Follow @fikihmuslimah_

#Repost from @fiqihwanita_ with @regram.app ... Adapun adab-adab dalam memberi nasehat adalah sebagai berikut: . 1. Mengharapkan ridha Allah Ta’ala . “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”(HR. Bukhari dan Muslim) . 2. Tidak dalam rangka mempermalukan orang yang dinasehati . Seseorang yang hendak memberikan nasihat harus berusaha untuk tidak mempermalukan orang yang hendak dinasehati. Ini adalah musibah yang sering terjadi pada kebanyakan orang, saat dia memberikan nasihat dengan nada yang kasar. Cara seperti ini bisa berbuah buruk atau memperparah keadaan. Dan nasehatpun tak berbuah sebagaimana yang diharapkan. . 3. Menasehati secara rahasia . Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77) . 4. Menasehati dengan lembut, sopan, dan penuh kasih . Tidak ada kunci yang lebih baik dan lebih tepat dalam memberi nasehat kecuali disampaikan dengan lemah lembut, diutarakan dengan beradab, dan dengan ucapan yang penuh dengan kasih sayang. Bahkan pada Fir’aun yang merupakan sosok paling kejam dan keras pada masa nabi Musa dan nabi Harun. Allah Ta’ala berfirman, Artinya, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Ath Thaha: 44) . 5. Tidak memaksakan kehendak . Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan: “Janganlah kamu memberi nasehat dengan mensyaratkan nasehatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44) . 6. Mencari waktu yang tepat . Ibnu Mas’ud pernah bertutur: “Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak.” (Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih) . . 📃 https://muslimah.or.id/7352-menasehati-tanpa-melukai.html 📷 @ummuasiyah97 . . Follow @fikihmuslimah_ Follow @fikihmuslimah_ . #fi

2

#Repost from @fiqihwanita with @regram.app ... Sampai Kapan Enggan Berjilbab? . . Wanita berjilbab sungguh mulia di mata Islam. Dan berjilbab adalah perintah yang wajib bagi setiap wanita muslimah karena itu akan lebih memuliakan dan menjaga diri wanita. Ada seorang imam masjid di Perancis ditanya, “Kenapa Allah memerintahkan wanita untuk mengenakan jilbab?” Imam tersebut ketika itu mengambil dua permen yang dibungkus. Lalu salah satunya dibuka pembungkusnya. Imam tersebut bertanya pada orang Perancis tadi. “Permen mana yang engkau pilih?” Orang Perancis tersebut menjawab. “Tentu aku akan memilih yang masih tertutup.” Imam tersebut lantas tersenyum, lalu berkata. “Itulah keadaan wanita muslimah pada umat Islam.Wanita muslimah yang berjilbab lebih berharga jutaan kali dari permen yang masih terbungkus, bahkan lebih berharga dari emas dan permata.” Perintah jilbab telah disebutkan dalam ayat berikut, يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا . . . “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59) Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Ayat di atas menunjukkan, orang yang tidak mengenakan jilbab akan lebih mudah digoda. Karena jika seorang wanita tidak berjilbab, maka orang-orang akan mengira bahwa ia bukanlah wanita ‘afifaat (wanita yang benar-benar menjaga diri atau kehormatannya). Akhirnya orang yang punya penyakit dalam hatinya muncul hal yang bukan-bukan, lantas mereka pun menyakitinya.Akhirnya orang-orang yang ingin berlaku jelek merendahkannya.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 671) Wahai ukhti muslimah, sampai kapan engkau enggan berjilbab? Tanyakanlah pada dirimu, apakah engkau akan menunda sampai maut menjemputmu? Penulis : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/5822-sampai-kapan

0

3

4

0

1

3

0

4

5

3